Nuryani S - Admin Lontara Institute
Foto : Yassir Arafat Usman, M.Psi, Psikolog saat membawakan materi "Figur Pria yang Menguatkan: Komunikasi, Keteladanan, dan Ikatan Emosional dalam Pembinaan Santri Putra" kepada para wali kelas, guru mata pelajaran, serta pengelola kepesantrenan Pesantren Muammar Gandi (dok. Tim Media Lontara Institute)
SIDRAP – Lontara Institute sukses menyelenggarakan seminar pembinaan bagi para guru dan pembina putra dengan tema “Figur Pria yang Menguatkan: Komunikasi, Keteladanan, dan Ikatan Emosional dalam Pembinaan Santri Putra”. Bertempat di Mesjid Muammar Gandi (16/2), kegiatan ini dihadiri oleh para wali kelas, guru mata pelajaran, serta pengelola kepesantrenan. Acara ini dirancang sebagai bagian dari rangkaian Tarhib Ramadhan untuk mempersiapkan para pendidik menjadi sosok pendamping yang matang secara emosional dalam membimbing santri selama bulan suci.
Direktur Lontara Institute, Yassir Arafat Usman, M.Psi., Psikolog, yang hadir sebagai narasumber utama, menekankan bahwa pembinaan santri putra di fase remaja memerlukan pendekatan yang melampaui sekadar instruksi struktural. "Salah satu hadiah terbaik dan terindah yang bisa diberikan seseorang kepada orang lain adalah waktu, karena ia merelakan sebagian jatah hidupnya yang takkan kembali," ungkap Yassir mengawali sesi dengan menekankan pentingnya kehadiran penuh (presence) seorang pembina.
Dalam paparannya, Yassir menjelaskan bahwa remaja putra berada pada masa storm and stress (usia 12-21 tahun), di mana mereka menghadapi perubahan fisik dan emosional yang drastis. Berbeda dengan santri putri yang lebih verbal, santri putra membutuhkan pengakuan atas kemampuan (competence) dan pemberian kepercayaan. Tanpa kehadiran figur pria yang stabil dan aman (secure figure), santri berisiko membangun konsep maskulinitas yang keliru.
Materi inti seminar menyoroti teknik Empathic Listening—keterampilan mendengar yang tidak sekadar menangkap kata-kata, tetapi juga memahami perasaan dan sudut pandang santri secara tulus. Peserta diajak untuk mempraktikkan strategi mendengar aktif, mulai dari menjaga kontak mata hingga menangkap pesan non-verbal seperti intonasi dan ekspresi wajah.
Selain komunikasi, aspek krusial yang dibahas adalah etika pembinaan dan batasan profesional. Yassir mengingatkan pentingnya menjaga objektivitas dengan menghindari praktik anak emas (favoritism) dan tetap menjaga privasi ruang dalam setiap interaksi empat mata. Pendekatan Psikologi Positif diterapkan untuk membangun mentalitas syukur dan ketangguhan, sehingga santri merasa aman untuk jujur dan terbuka tanpa rasa takut.
Suasana kegiatan menjadi sangat dinamis saat memasuki sesi diskusi studi kasus. Para peserta melakukan role play untuk menangani berbagai skenario nyata, mulai dari santri yang membangkang karena proyeksi masalah keluarga, hingga menangani perilaku perundungan yang dibungkus dalih "latihan mental".
Melalui kegiatan ini, Lontara Institute berharap para pembina tidak hanya menjadi penegak disiplin, tetapi juga menjadi "ayah pengganti" (surrogate father) yang mampu memberikan ikatan emosional yang mendidik dan bermartabat. Dengan kesepahaman pola komunikasi yang baru, diharapkan iklim pesantren menyambut Ramadhan tahun ini menjadi lebih hangat, aman, dan transformatif bagi karakter para santri
Tentang Lontara Institute: Lontara Institute adalah lembaga pengembangan SDM yang berfokus pada layanan outbound, training, coaching, counseling, dan mentoring. Kami mengintegrasikan pendekatan psikologi positif dan nilai spiritual untuk membantu individu maupun organisasi mencapai potensi terbaiknya.
Kunjungi kami di www.lontarainstitute.com atau ikuti Instagram kami @lontara_institute.