Nuryani S - Admin Lontara Institute
Foto : Yassir Arafat Usman, M.Psi, Psikolog saat membawakan materi "Menjadi Laki-Laki yang Sadar Diri, Tangguh Emosi, dan Punya Arah Hidup" kepada seluruh santri putra MA & MTs Muammar Gandi (dok. Tim Media Lontara Institute)
SIDRAP – Masa remaja adalah persimpangan jalan yang menentukan. Di tengah dinamika perubahan emosi dan pencarian identitas, Lontara Institute hadir mendampingi para santri putra MA & MTs Muammar Gandi untuk menavigasi diri mereka melalui Seminar Remaja Putra bertajuk “Menjadi Laki-Laki yang Sadar Diri, Tangguh Emosi, dan Punya Arah Hidup” yang bertempat di Mesjid Muammar Gandi, Kabupaten Sidrap, Senin (16/02).
Kegiatan ini dirancang khusus sebagai bagian dari agenda Taarhib Ramadhan. Tujuannya adalah menanamkan konsep maskulinitas sehat berbasis nilai-nilai Islam serta mempersiapkan mental dan spiritual santri dalam menyambut bulan suci.
Direktur Lontara Institute sekaligus narasumber utama, Yassir Arafat Usman, M.Psi., Psikolog, mengawali sesi dengan sebuah pesan reflektif yang menyentuh hati para santri. "Hadiah terbaik dan terindah yang bisa diberikan seseorang kepada orang lain adalah waktu. Mengapa? Karena saat kita memberikan waktu, kita sedang memberikan sebagian jatah hidup kita yang tidak akan pernah kembali lagi," tuturnya hangat.
Dalam pemaparan materinya, Yassir menggunakan pendekatan Psikologi Positif untuk membantu santri memetakan diri. Melalui metode Johari Window, santri diajak mengenali "Area Publik" hingga "Area Tersembunyi" dalam diri mereka. Pendekatan dialogis ini mendorong para santri untuk lebih terbuka terhadap umpan balik (feedback) sebagai sarana pertumbuhan pribadi dan peningkatan kualitas hubungan antar sesama santri di pondok.
Salah satu poin edukatif yang paling ditekankan adalah meluruskan mitos keliru tentang maskulinitas. Lontara Institute menyoroti pandangan sempit bahwa "laki-laki tidak boleh menangis" atau "laki-laki harus dominan dengan kekerasan".
"Menangis adalah respons manusiawi yang jujur terhadap perasaan. Memendam emosi justru berisiko memicu ledakan perilaku yang tidak sehat di masa depan," jelas Yassir. Beliau kemudian memperkenalkan konsep Qowwam—yakni laki-laki sebagai pemimpin yang melindungi (secure figure). Seorang laki-laki Muslim sejati bukan dilihat dari kekuatan fisiknya untuk menindas, melainkan dari kematangan emosionalnya untuk mengayomi, berempati, dan mengambil keputusan dengan kepala dingin.
Suasana mesjid menjadi lebih khidmat saat memasuki sesi refleksi pribadi. Para santri dipandu untuk menemukan passion dan tujuan hidup mereka agar memiliki arah yang jelas (sense of purpose). Momen ini menjadi bekal spiritual penting agar para santri dapat menjalankan ibadah Ramadhan dengan kesadaran penuh (mindfulness) dan semangat transformasi diri.
Melalui seminar ini, Lontara Institute berharap santri Muammar Gandi Sidrap tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki ketangguhan mental dan integritas spiritual. Menjadi laki-laki yang sadar diri adalah langkah awal untuk menjadi pemimpin yang melayani bagi umat di masa depan.
Tentang Lontara Institute: Lontara Institute adalah lembaga pengembangan SDM yang berfokus pada layanan outbound, training, coaching, counseling, dan mentoring. Kami mengintegrasikan pendekatan psikologi positif dan nilai spiritual untuk membantu individu maupun organisasi mencapai potensi terbaiknya.
Kunjungi kami di www.lontarainstitute.com atau ikuti Instagram kami @lontara_institute.